Menjadi Tua? Ternyata Ongkosnya Mahal!

Umur saya sudah 69 tahun (tahun 2011), untuk memelihara kesehatan ternyata banyak obat-obat yang harus saya minum. Minimal saya selalu minum obat-obat antioksidan, anti penuaan yang mengandung mikronutrient maupun makronutrient.
Karena setiap orang juga menjadi tua, setelah berumur 55 tahun, 95% akan mengalami hipertensi, maka saya juga minum obat anti tekanan darah tinggi. Saat ini obat yang saya minum 2 jenis obat untuk tekanan darah tinggi, yaitu ARB ditambah golongan CCB, agar tekanan darah saya stabil pada kisaran 120/80 mmHg.
Ternyata setelah umur di atas 60 tahun, setiap 3 orang terdapat 2 orang yang pasti sudah terkena DM dan peningkatan kolesterol, di samping juga ada tekanan darah tinggi. Dan saya sudah terkena komplikasi penyakit-penyakit tersebut, woouuw!! Obat yang saya minum menjadi lebih dari 10 tablet/hari.
Harap diketahui minum obat-obatan tersebut haruslah seumur hidup dan target pengobatan masing-masing kelainan harus tercapai adalah tensi 120/80 mmHg, untuk gula A1C ≤ 6,5-7,0%, LDL kholesterol harus ≤ 70-100 mg%, asam urat ≤ 7,0 mg%, urine tidak ada kelainan, tidak ada mikro/makro albuminuri.
Berapa anggarannya?
Kalau kita menggunakan obat-obat BPJS (semua obat tersebut ada di BPJS) maka ongkosnya adalah sekedar transport pulang pergi dari rumah sakit ke rumah (obat-obat BPJS gratis untuk pegawai negeri). Tetapi kalau harus beli sendiri maka ongkosnya ± Rp 1 juta/bulan (jika semua obat menggunakan golongan generik).
Maka bagi mereka yang tidak punya asuransi kesehatan, minimal harus merogoh kocek sendiri sekitar Rp 1 juta/bulan untuk beli obat-obatan. Murah bagi yang punya uang, tetapi mahal untuk yang tidak punya uang (miskin).
Ibu saya sekarang berusia hampir 90 tahun, selama hidupnya pernah mangalami stroke ringan 2 kali, patah tulang pinggul 1 kali sampai harus opname di ICU. Pernah masuk ICU lagi karena sesak napas akibat tumor thyroid yang menekan trachea sehingga harus dilakukan tracheostomi dan harus memakai permanen tracheostom. Tentunya sangat mengganggu kenyamanan. Beruntung akhirnya dapat dilepaskan sehingga bebas bernapas.
Baru-baru ini Ibu harus masuk rumah sakit karena terserang radang paru-paru kanan (penemoni lobaris), sempat kritis 3 kali. Konsep saya tidak akan masuk ke ICU lagi (mahal). Mengapa tidak saya masukkan ICU, sebab ibu saya sudah lanjut usia (90 tahun), ongkos di ICU ± Rp 10-15 juta/hari dan rehabilitasi ibu saya tidak mungkin bisa bangun dari tempat tidur lagi, semua keperluannya harus dibantu perawat serta ditunjang obat-obat yang beraneka guna dan tujuan. Jadi saya putuskan DNR (Do Not Resusitate).
Tetapi kuasa Tuhan, maka ibu saya lolos dari kegawatan akut tersebut, namun tetap dalam kondisi kritis yang kronis, sebab ibu saya tidak bisa menelan makanan sehingga harus dipasang Gastric Tube Feeding (Zonde) yang diganti tiap 2 minggu. Juga dikombinasi dengan semi permanent central venous catheter di leher untuk membantu infus cairan dan suntikan obat-obatan. Maklum semua pembuluh darah vena di tangan dan di kaki juga sudah rusak semua.
Jelas ibu saya tidak dapat dirawat di rumah, jadi harus mondok di rumah sakit karena banyak masalah yang tidak bisa di atasi di rumah, misalnya mandi, cebok, kencing (MCK), menyiapkan makanan cair, obat-obat suntik untuk kedaruratan medik (ibu saya setiap hari selalu ada masalah darurat misalnya demam, batuk-batuk, perlu oksigen, tidak bisa berak, perlu lavement, gatal-gatal seluruh tubuh, kulit kering, tidak bisa tidur dan masih banyak lagi).
Jadi sekali lagi jelas ibu saya tidak bisa dirawat di rumah, apalagi komunikasi dengan beliau sudah sangat mundur, tidak bisa diajak mengerti tentang masalah sehingga putra-putrinya susah untuk ‘ngladeni’. Saat ini sudah lebih dari 6 bulan (1/2 tahun) berada di rumah sakit.
Bayangkan berapa ongkosnya kalau tidak punya BPJS.. woouuw… Jadi menjadi tua itu memang mahal ongkosnya. Mudah-mudahan saya nanti wafat dengan lancar dan khusnul khotimah. Amin.. amin.. amin…
Maka ingatlah 5 perkara sebleum 5 perkara: muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, sempat sebelum sempit, sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati (hadist Nabi). Betul??
Berbakti kepada ibunda adalah 3 kali utama, kepada ayahanda 1 kali utama (hadist Nabi). Dulu saya bersekolah di luar kota (Kediri), mondok di Surabaya 10 tahun, berapa ongkosnya? Jadi sekarang saya berbakti kepada beliau agar sejahtera mondok di rumah sakit. Saya tidak mau menjadi anak yang durhaka sebab beliau yang melahirkan, memelihara dari bayi hingga saya dewasa dan bisa berkeluarga dengan sempurna. Berapapun ongkosnya!
Maha Suci Allah lagi Maha Pemurah dan Penyayang, ampunilah hamba.. Amiiin…

Dapatkan informasi kesehatan
di inbox mu

Ayo berlangganan dan dapatkan berbagai informasi menarik dari kami

Terima kasih telah berlangganan

Maaf terjadi kesalahan

Add Your Comment