Kreatinin Tinggi, Gagal Ginjal Kronik, Bagaimana Kiat Mengobatinya?

Dalam praktek saya sehari-hari, banyak pasien-pasien yang menjadi panik dan cemas sehubungan dengan kadar kreatinin serum darahnya meningkat di atas normal. Pertanyaannya selalu sama, yaitu “Apakah saya sudah kena gagal ginjal? Bagaimana cara mengobatinya?” Maka untuk artikel ini saya akan mencoba membahas sampai jelas, lugas dan tuntas.

Pertama kali harap diketahui bahwa tugas-tugas ginjal antara lain:
Membuang sisa-sisa metabolisme tubuh dan racun-racun yang berbahaya melalui saringan ginjal (Nephron), dengan cara dilarutkan ke dalam urine yang dibentuk oleh ginjal, lalu dialirkan keluar bersama urine.
Produksi urine normal tiap 24 jam ± 1500-2000 ml/hari. Hasil-hasil metabolisme yang selalu tetap harus dibuang lewat urine ialah Kreatinin (hasil pemecahan otot-otot tubuh), BUN (hasil pemecahan protein yang kita makan sehari-hari karena dosisnya yang berlebihan), Asam urat, air minum yang terlalu banyak diminum (>2000 ml/hari) dan juga sisa-sisa obat2 atau vitamin yang tidak diperlukan tubuh karena terlalu berlebihan, karena memang sudah tidak dibutuhkan lagi, atau karena memang sudah rusak.
Mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit (K/Na, Ca/P, dsb) serta pH (keasaman darah) agar selalu normal (artinya selalu dalam kondisi “balans”, tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih).
Mengatur produksi hormon Renin, Erithropoietin, Vitamin D3 sehingga: tekanan darah tetap terkendali normal (120/80 mmHg) diatur oleh Renin; Kadar Hb juga tetap dalam kisaran harga normal (Hb 14-15 g%), diatur oleh hormon Erithropoietin; serta mengatur massa tulang lewat imbangan Ca/P oleh vitamin D3 agar tidak mudah keropos (osteoporosis, osteodistrophy) dipandu oleh hormon Parathyroid.
Masih ada tugas-tugas lain yang terlalu spesialistis untuk dibahas.

Jadi kalau ada penyakit ginjal apa saja, gangguan fungsi tersebut pasti terjadi dan menjelma di klinik sebagai keluhan-keluhan utama sebagai berikut, misalnya:
Jumlah urine per 24 jam menjadi sedikit atau tidak ada produksi sama sekali, misalnya pada Gagal Ginjal Akut karena obat-obatan, NSAID, antibiotik, dsb.
Sembab kelopak mata atau sembab (Edema) kedua tungkai. Terutama pagi hari sehabis bangun tidur (mata sembab seperti habis menangis).
Mengalami perubahan profil kencing, misalnya urine berwarna merah (tanda ada perdarahan, red blood cell + pada sedimen urine). Urine berbuih (tanda ada kebocoran Nephron (saringan ginjal), protein urine +, microalbuminuria +. Urine menjadi berbau sangat pesing (mengandung banyak BUN dan Kreatinin) atau berbau amis (tanda banyak leukosit karena ada infeksi saluran kencing). Kadang-kadang urine menjadi keruh akibat adanya kristal-kristal Asam urat atau batu-batu kecil seperti pasir yang tersaring keluar bersama urine.
Mungkin juga frekuensi kencing juga bertambah menjadi sering dan sedikit-sedikit serta terasa sakit (misalnya pada I.S.K). Jadi si pasien sering pergi ke kamar mandi.
Pada pasien-pasien dengan keluhan no. 1,2,3 dan 4 tersebut harus diperiksa kadar serum BUN, Kreatinin, Asam urat, dan sebagainya untuk menilai fungsi ginjal. Bila kadarnya meningkat, disebut UREMIA, darah mengandung bahan-bahan urine, berarti fungsi ginjal terganggu (Gagal Ginjal).
Rata-rata semua pasien ginjal selalu disertai Hipertensi (tensi >120/80 mmHg). Pada stadium akhir semua pasien ginjal >90% – 100% sudah Hipertensi semua.
Bila kadar Hb turun ≤10 g%, sedangkan si pasien juga sudah mengidap Hipertensi, maka kombinasi ini (Hipertensi > 120/80 mmHg + anemi Hb ≤10 g%) adalah tanda bahwa si pasien sudah menderita GGK/PGK. Masalahnya tinggal mengukur GFR (Glomerular Filtration Rate) dengan cara mengukur eGFR (estimated GFR) menggunakan rumus MDRD atau Cocroft-Gault formula. Yang paling sensitif mengukur GFR Cystatin-C.
Singkat cerita, apakah si pasien kena gagal ginjal atau tidak adalah sebagai berikut:
Periksa urine lengkap!
Microalbumin +, protein urine +, berarti Nephron rusak, saringan ginjal rusak, berarti ada kebocoran (damage).
Bila sedimen urine mengandung Red Blood Cell (R.B.C > 5 pl.p) berarti ada perdarahan yang berasal dari ginjal.
Bila silinder R.B.C +, berarti perdarahan dari saringan ginjal (Glomerulus, Nephron), penyakitnya biasanya golongan Nephritis.
Bila White Blood Cell + (W.B.C > 5 pl.p) berarti ada inflamasi, keradangan, mungkin ada I.S.K. (Infeksi Saluran Kencing).
Bila no. 1,2,3 dan 4 salah satu saja positif, periksa BUN, Kreatinin, Asam urat. Bila kadar serum yang melebih harga normal berarti ada UREMIA (darah mengandung bahan-bahan urine). Periksa GFR degan cara eGFR (MDRD, Cocroft Gault formula), atau Cystatin C.
Bila no. 1,2,3,4, dan 5 positif abnormal, berarti si pasien definitif sudah kena penyakit ginjal (PGK/CKD).
Bila terdapat Hipertensi (tensi ≥ 120/80 mmHg) serta Hb ≤ 10 g% maka makin pasti bahwa si pasien sudah jatuh ke dalam GGK/PGK/CKD.
Pada pasien-pasien ini bila dilakukan USG ukuran-ukuran ginjal akan mengecil (mengkeret).
Penyebab Penyakit Ginjal Kronis (PGK) utamanya ada 2 hal yaitu 50-60% karena D.M. sedang sisanya oleh penyakit-penyakit non D.M misalnya Hipertensi, Nephritis, I.S.K., Batu, ginjal polikistik, vasculitis, dan sebagainya.
Puncak dari bahasan ini adalah bagaimana mengelola kadar Kreatinin yang meningkat ini?
Obat-obat untuk menurunkan Kreatinin itu tidak ada! Yang ada ialah bagaimana caranya harus menciptakan suatu kondisi yang nyaman sedemikian rupa sehingga ginjal bisa mengalami regresi (membaik). Caranya dengan mengendalikan faktor-faktor yang memicu progresifitas ini sampai mencapai targetnya.
Semua pasien PGK/CKD harus menjalani diet rendah protein (≤ 0,6 g/kg BB/hari) agar beban Nephron tidak terlalu berat. Diet kaya protein membuat Nephron makin rusak sehingga BUN makin meningkat (sisa protein diet yang tidak digunakan tubuh dibuang sebagai BUN). Diet tinggi protein akan membebani fungsi ginjal, terjadi hiperfiltrasi, hiperfungsi, hal ini akan mempercepat fibrosis, sehingga ginjal cepat menjadi kisut (mengkeret). Maka terjadilah GGK/PGK/CKD.
Diet rendah protein (0,6 g/kg BB/hari) tersebut juga bermanfaat mengurangi gejala-gejala mual, muntah, dan tidak suka makan. Akan tetapi kerugiannya menyebabkan pasien menjadi sangat katabolik (makin banyak zat-zat tubuh yang dibakar) sehingga keadaan si pasien makin kurang gizi (undernutrition). Maka untuk kompensasi substitusinya, si pasien harus diberi Keto Analog (Asam Amino, Keto Acid, Ketosteril ®) dengan dosis 3xII hingga 3xIV tablet/hari, tergantung kondisi klinisnya.
Yang terpenting adalah mengusahakan tekanan darah stabil pada kisaran 120/80 mmHg dengan obat-obatan antihipertensi ACE-1, ARB dan CCB non dihidropiridin. Sekali lagi tekanan darah adalah kunci keberhasilan agar PGK/CKD stabil tidak bertambah jelek/progresif. Harus dikontrol oleh dokter ahli Ginjal dan Hipertensi (Nephorologist/KGH) agar si pasien tidak terombang-ambing nasibnya.
Khusus untuk penderita D.M harus berobat dengan ketat dan agresif agar kadar HBA1C ≤ 6,5 g%. Kalau perlu memakai suntikan Insulin.
Tak kalah pentingnya LDL Cholesterol harus ≤ 100 mg%, dengan obat-obat statin dan sebagainya (misalnya symvastatin, atorvastatin) dapat dikombinasikan dengan ezetimide.
Asam urat juga harus diobati dengan Allopurinol hingga kadarnya ≤ 7,0 mg%.
Kadar Ca/P harus dikendalikan dengan obat-obat Ca Carbonat, sehingga perkalian Ca x P ≤ 55. Pengobatan dengan CaCO3 harus diawasi dengan ketat agar tidak terjadi overtreatment sehingga Ca x P ≥ 55 karena bahaya terjadi perkapuran vaskuler sistemik. Terutama di jantung (P.J.K).
Kadar K/Na juga harus dijaga, sering diperiksa laboratoriumnya. Jika K ≥ 6,0 bahaya serangan jantung (cardiac arrest). K ≥ 7,0 harus cuci darah (HD).
Proteinuria (microalbuminuria) adalah tanda dari kerusakan Nephron. Targetnya adalah proteinuria negatif.
Bila hanya mencapai 0.25 -0.50 g% berarti ada regresif, kerusakan membaik, GFR membaik, kreatinin menurun.
Bila proteinuria pada kisaran 1 g% berarti hanya remisi, keadaan status quo, tidak menjelek tapi juga tidak membaik, kadar kreatinin tidak berubah.
Bila proteinuria ≥ 1 g% atau sampai dengan > 3 g% berarti kerusakan makin progresif, GFR makin menurun, Kreatinin makin meningkat, sebentar lagi akan Gagal Ginjal Total sehingga harus HD.
Cara mengobatinya adalah usahakan tensi stabil pada kisaran 120/80 mmHg dengan obat-obatnya renoprotektif golongan ACE-1, ARB dan CCB non dihidropiridin. Obat-obat baru adalah Aliskiren (Direct Renin Inhibitor, Rasilez ®).
Kadar Hb harus pada kisaran 11-12 g%. Dipertahankan dengan suntikan Human Epo (hormon Erythroprotein)
Harus berhenti merokok!! Berhenti merokok berarti sudah bisa menurunkan resiko PGK/CKD hingga 3 kali lipat.
MET’S Syndrome juga harus diobati dengan sempurna. Konsultasikan kepada dokter yang berkompetensi. Karena hal ini tentu tidak mudah, sebab sudah banyak komplikasinya bila sudah disertai PGK/CKD.
Semua penyulit-penyulit Kardiovaskuler yang ada harus diobati sampai target-target rekomendasi.
Jadi obat untuk menurunkan kreatinin itu memang tidak ada! Yang ada hanyalah bagaimana caranya menciptakan kondisi yang nyaman agar ginjal tetap stabil dan tidak progresif bahkan mengalami regresi. Memang agak njelimet, akan tetapi insya Allah bila diselenggarakan oleh dokter ahlinya yang sudah mempunyai jam terbang panjang, telaten dan berdedikasi tinggi, dengan syarat si pasien juga harus setuju dan sepakat dengan cara taat berobat, sebab obat-obatnya sangat banyak (polifarmasi) dan harganya tidak murah.
Biasanya si pasien takut minum, karena takut merasa kebanyakan obat dan takut efek samping yang mungkin terjadi. Apalagi hampir > 50% pasien PGK/CKD selalu ada gangguan lambung (mual, muntah, tidak suka makan).
Pertanyaan yang selalu timbul adalah: “Dok/Prof, obatnya kok banyak sekali! Apa tidak makin merusak ginjal?”. Dan saya selalu menjawab sebagai berikut: “Apa mau mencoba tidak minum obat? Mari kita lihat bersama mana yang lebih beruntung, yang minum obat atau yang tidak minum obat.”

Di seluruh dunia ini orang yang sembuh dari penyakit adalah orang yang taat berobat dengan benar! Sekali lagi berobat dengan benar!!
Sebab digembala oleh dokter-dokter yang berkompetensi dan selalu dimonitor laboratoriumnya. Insya Allah obat-obat yang banyak tersebut tidak akan merusak ginjal, justru ginjal diharapkan bisa menjadi baik.
Maka kesabaran dokter yang merawat dan melakukan penyuluhan serta memberi keterangan tentang kemanan obat-obat tersebut adalah kunci untuk didengarkan dan ditaati oleh si pasien. Semoga! Amin 3x.

Dapatkan informasi kesehatan
di inbox mu

Ayo berlangganan dan dapatkan berbagai informasi menarik dari kami

Terima kasih telah berlangganan

Maaf terjadi kesalahan

Add Your Comment

Dapatkan informasi kesehatan
di inbox mu

Ayo berlangganan dan dapatkan berbagai informasi menarik dari kami

Terima kasih telah berlangganan

Maaf terjadi kesalahan