Bagaimana kondisi bayi yang terinfeksi virus Zika sekarang?

Bagaimana kondisi bayi yang terinfeksi virus Zika sekarang?

Two years on, how are the Zika babies doing?

Nearly 3,000 children were born with Zika-caused microcephaly in Brazil alone. Photo credit: EPA/Percio Campos
Sudah hampir lebih dari dua tahun berlalu sejak Brazil menyatakan wabah virus Zika sebagai kondisi darurat di masyarakat. WHO kemudian juga mengumumkan darurat kesehatan di dunia pada tahun berikutnya akibat meningkatnya kecepatan penyebaran penyakit setelah olimpiade musim panas di Rio de Janiero.

Bahaya infeksi virus Zika tidak diketahui hingga ada wanita hamil yang terinfeksi virus mulai melahirkan bayi dengan malformasi tubuh berupa cacat pertumbuhan otak atau mikrosefali. Berbagai penelitian dilakukan untuk memperkirakan peluang tanda awal mikrosefali setelah kelahiran, tetapi penelitian tersebut tidak dapat menentukan seberapa sering munculnya tanda awal yang terlambat.

Untuk menjawab hal tersebut, sebuah laporan baru dari US Centres for Disease Control and Prevention (CDC) memeriksa keadaan bayi yang lahir dari ibu terinfeksi virus Zika dua tahun yang lalu. Studi pertama mengenai hal tersebut dipublikasikan dalam Morbidity and Mortality Weekly Report, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh CDC.

Perawatan seumur hidup untuk bayi terinfeksi virus Zika

Studi tersebut melakukan evaluasi terhadap anak-anak yang berasal dari pusat epidemi, yaitu provinsi Paraiba di Brazil, dengan bantuan Kementrian Kesehatan Brazil. Para peneliti memulainya dengan 278 bayi, dimana keluarga dari 122 bayi setuju untuk dilakukan evaluasi pemeriksaan kembali hingga akhirnya 19 bayi dengan infeksi terberat dicatat dalam laporan.

Sementara untuk anak-anak, yang berusia diantara 1 dan 2 tahun diperiksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan beberapa dari mereka memiliki kondisi perkembangan kognitif dan fisik seperti pada bayi berusia enam bulan. Empat dari anak-anak tersebut mengalami kesalahan diagnosis mikrosefali sementara 15 anak lain menderita gangguan motorik berat. Tidak hanya itu, semuanya kecuali satu anak, memenuhi kriteria diagnosis cerebral palsy.

Kebanyakan dari mereka sering mengalami kejang dan gangguan tidur, delapan anak menderita bronkitis atau pneumonia, dan sembilan anak mengalami gangguan makan atau menelan yang mana dapat membahayakan nyawa jika tersedak makanan atau terjadi malnutrisi. Kebanyakan dari mereka tidak dapat duduk tegak, tidak memiliki kemampuan berbahasa, serta mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran yang dapat memengaruhi proses belajar. Mereka akan membutuhkan perawatan seumur hidup menurut para penulis penelitian.

“Seiring dengan pertumbuhan anak-anak terinfeksi virus Zika, mereka akan membutuhkan perawatan khusus dari berbagai penyedia layanan kesehatan dan pengasuh mereka,” tutur Dr Georgina Peacock, direktur dari CDC’s Division of Human Development and Disability, dalam sebuah pernyataan mengenai penemuan tersebut.

Komunitas ilmiah di dunia berusaha mencari jawaban

Walaupun tidak lagi menjadi keadaan darurat, namun banyak efek merugikan virus Zika yang masih belum diketahui. Meskipun sudah ada laporan penelitian terbaru, namun bayi-bayi tersebut tetap membutuhkan observasi berkelanjutan.

“Masih terlalu dini untuk berpikir bahwa pandemi Zika sudah berhasil dikendalikan dan tidak akan muncul kembali,” tutur ketua dari US National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), yang merupakan bagian dari National Institutes of Health.

Penelitian terbaru hanya menguatkan fakta bahwa efek virus Zika menimbulkan sebuah tragedi medis mendalam dan tantangan sosial yang akan membutuhkan bantuan keuangan, medis, dan sosial selama beberapa dekade. Demikian pernyataan yang ditulis oleh direktur NIAID, Anthony S. Fauci, MD dan penasihat sosial David Morens, MD dalam artikel introduksi untuk The Journal of Infectious Diseases yang dipublikasikan tanggal 16 Desember.

Banyak peneliti telah berkontribusi dalam pemahaman mengenai penyakit ini, khususnya pada bulan Januari tahun lalu, dimana peneliti dari Harvard, MIT dan Austrian Academy of Sciences, mengembangkan metode brain blobs. Dengan memanfaatkan stem cell dengan teknik CRISPR, brain blobs akan membantu peneliti mempelajari proses perkembangan otak dan bagaimana pengaruh virus Zika terhadap otak bayi yang baru lahir.

Serupa dengan penelitian tersebut, para peneliti lain mengumumkan bahwa mereka sedang memasuki tahap 2 uji coba vaksin virus Zika pada bulan April. Subjek penelitian akan dipantau selama dua tahun. Peneliti juga menemukan bahwa dari dua garis silsilah utama virus Zika, yaitu Afrika dan Asia, dan hanya keturunan Asia diketahui berisiko mikrosefali.

Namun, tidak semua penemuan tersebut bersifat positif. Sebuah studi yang dilakukan di Washington University menemukan bahwa virus Zika juga menyerang sistem reproduksi pria. Dr Michael Diamond, kepala penelitian tersebut berkata, “Kami melihat beberapa bukti signifikan terjadinya kerusakan tubulus seminiferus yang merupakan struktur penting untuk pembentukan sperma pada testis.” Walaupun hal tersebut baru merupakan hasil uji coba pada tikus, dampaknya terhadap manusia masih mengkhawatirkan.

Harapan rendah untuk masa depan bayi terinfeksi virus Zika

“We need to keep working on this issue and we need to be trying to figure out what’s going on with these babies,” says CDC director, Dr Brenda Fitzgerald. Photo credit: Politically Georgia/Kent D. Johnson

“We need to keep working on this issue and we need to be trying to figure out what’s going on with these babies,” says CDC director, Dr Brenda Fitzgerald. Photo credit: Politically Georgia/Kent D. Johnson

Hampir 3.000 anak di Brazil terlahir dalam keadaan mikrosefali akibat virus Zika. Walaupun masih belum jelas berapa yang mengalami infeksi berat, namun dokter dari berbagai negara yang merawat bayi-bayi tersebut tidak berharap banyak.

“Sungguh menyakitkan,” tutur direktur CDC, Dr Brenda Fitzgerald. “Kami memperkirakan anak-anak tersebut akan membutuhkan banyak bantuan dan perawatan.”“Kami tidak berharap para bayi ini bisa mengejar ketertinggalan,” ujar Dr Cynthia Moore, kepala petugas medis dari CDC’s division of congenital and developmental disorders. Beliau berkata, “Kami tidak dapat memprediksi tetapi kami yakin mereka akan mengalami tantangan seumur hidup.”

CDC ingin tetap memantau anak-anak tersebut selama bertahun-tahun untuk memahami jangkauan kesulitan dan melihat apakah terdapat masalah bagi anak-anak yang terkena dampak ringan dan anak-anak yang tampak normal. MIMS

Sumber:

Zika-affected babies show severe health, developmental issues two years later



http://www.bbc.com/news/av/health-35414379/zika-virus-what-you-need-to-know
https://www.eurekalert.org/pub_releases/2017-02/uotm-usu021717.php
https://www.nih.gov/news-events/news-releases/phase-2-zika-vaccine-trial-begins-us-central-south-america
http://health.asiaone.com/health/health-news/zika-causes-infertility-lasting-harm-testes-mice-us-study
http://www.nst.com.my/news/2016/11/191004/zika-babies-can-develop-microcephaly-first-year
https://today.mims.com/5-notable-new-developments-in-brain-research

Zika virus: A continuing public health and research challenge


http://time.com/5064987/scientists-are-only-just-learning-the-terrifying-longterm-toll-for-babies-with-zika/ 

Dapatkan informasi kesehatan
di inbox mu

Ayo berlangganan dan dapatkan berbagai informasi menarik dari kami

Terima kasih telah berlangganan

Maaf terjadi kesalahan

Add Your Comment

Dapatkan informasi kesehatan
di inbox mu

Ayo berlangganan dan dapatkan berbagai informasi menarik dari kami

Terima kasih telah berlangganan

Maaf terjadi kesalahan

  • Ayo hidup sehat dan bahagia bersama Dokter-Kita.com
close